“CITAYEM FASHION WEEK” KREATIFITAS JALANAN BERUJUNG DIDAFTARKAN PERUSAHAAN BAIM WONG

You are currently viewing “CITAYEM FASHION WEEK” KREATIFITAS JALANAN BERUJUNG DIDAFTARKAN PERUSAHAAN BAIM WONG

Dukuh Atas dan Jalan Sudirman di Jakarta Pusat mendadak menjadi pusat perhatian masyarakat. Kawasan tersebut terkenal lantaran viral di sejumlah kanal media sosial setelah sejumlah remaja mendatangi destinasi tersebut untuk sekedar berkumpul santai saat libur sekolah dan akhir pekan.

Kawasan itu pun kemudian ramai dikunjungi para remaja yang berasal daerah penyangga Jakarta seperti Citayam, Bojonggede hingga Depok di Jalan Sudirman (SCBD). Mereka kemudian banyak mengunggah aktivitas mereka di media sosial.

Belakangan mereka juga unjuk busana dengan bergaya seperti seorang model menggunakan trotoar dan penyeberangan jalan (zebra cross). Hingga akhirnya mereka dikenal dengan Citayam Fashion Week.

Akhirnya kreativitas jalanan itu menarik perhatian sejumlah pihak, baik artis maupun pejabat daerah. Bahkan, perusahaan milik Baim Wong mendaftarkan Citayam Fashion Week ke Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham).

Dilirik Artis Dan Pejabat

Setelah Citayam Fashion Week viral di media sosial, sejumlah tokoh nampak mendatangi ajang fashion jalanan tersebut. Mulai dari Athalla Naufal, Teuku Ryan suami Ria Ricis, Paula Verhoeven, Rina Nose, Kiky Saputri, Mayangsari, Ridwan Kamil dan Anies Baswedan.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria mendukung dan mengapresiasi kreativitas anak-anak muda tersebut dalam CFW. Alasannya, mereka bisa menampilkan kreasi dan ekspresi serta mengenalkan busana yang merupakan produk lokal.

Namun, di tengah hingar-bingar Citayam Fashion Week, dia mengakui ajang itu melahirkan sisi lain yang tidak bisa dikesampingkan.

Tentu yang terlupakan adalah para pejalan kaki, para pekerja kantoran yang biasa bebas lalu-lalang berjalan di trotoar dari stasiun menuju tempat kerja dan sebaliknya, kini tak mudah bergerak karena semakin ramainya kawasan Dukuh Atas.

Belum lagi jalur penyeberangan jalan yang kini berubah menjadi ajang peragaan busana dan lalu lalang kendaraan yang melintas di kawasan itu terpaksa harus terhenti.

Meski Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di Jakarta adalah level satu dan pandemi Covid-19 masih belum dinyatakan berakhir, namun kerumunan di Dukuh Atas terbilang tinggi. Apalagi saat malam dan akhir pekan suasana padat orang yang sebagian di antaranya tidak menggunakan masker untuk melindungi diri dari penularan Covid-19. Petugas gabungan pun